Monday, April 20, 2015

Perkembangan bayi umur 1 bulan

Sebelumnya aku menulis tentang pengalaman melahirkan di Ceko, Eropa tengah di sini dan sini.

Setelah 4 hari menginap di rumah sakit, akhirnya aku bisa pulang dan membawa bayiku ke rumah. Sebelum pulang kami wajib memberi tahu Dokter Spesialis Anak (DSA) kami dan memberikan kontak DSA ke pihak rumah sakit. 

Kami sebenarnya agak terlambat mencari DSA untuk bayi kami, karena waktu itu tidak tahu kalau di Ceko setiap anak harus mempunyai dokter pribadi dan biasanya orang tua mencari DSA jauh hari sebelum si bayi lahir. Kalau mendadak, bisa jadi seperti kami, ditolak DSA yang diinginkan karena jadwalnya sudah penuh. Untuknya dokter tersebut merekomendasikan dokter lain yang juga sangat fasih bahasa Inggrisnya yaitu MUDr. Denisa Mendelová (http://www.dsarnika.cz/).

DSA kami memberitahu perawatan harian dan daftar obat-obatan bayi yang sebaiknya dimiliki.

Obat untuk bayi yang sebaiknya tersedia di rumah:
- Krem untuk kulit kering
- Obat tetes mata bayi
- Minyak zaitun
- Alkohol 60%
- Obat tetes kalau bayi sakit perut
- Cairan pembersih hidung bayi
- Alat penyedot lendir hidung bayi
- Vitamin D (Karena di negara sub tropis sinar mataharinya tidak sebanyak di negara tropis)

Bayi di Ceko tidak perlu mandi setiap hari, cukup 3 hari sekali, karena kalau terlalu sering bisa membuat kulit bayi kering.





Sebelum memakaikan baju ganti, perawatan hariannya adalah:
- Membersihkan bagian tali pusar dengan alkohol 60%
- Mengoles minyak zaitun ke bagian lipatan seperti selangkangan dan ketiak
- Membersihkan sela-sela jari kaki dan tangan 
- Membersihkan bagian luar hidung dan telinga
- Mengoleskan krem ke badan agar tidak kering


Perkembangan bayi umur 1 bulan banyak terdapat di internet, tapi disini aku ingin menulis perkembangan yang aku lihat sendiri dari bayiku :)

- Matanya mulai membuka lebih lebar. Sekitar minggu ke 3 pandangannya mulai fokus dan bisa mengikuti gerak objek yang sedang dilihat. 
- Kalau menyusu mulai melihat ke wajah ibunya sekitar minggu ke 2. Sebelumnya pandangannya kosong dan hanya melihat ke depan.
- Sudah bisa mengeluarkan suara erangan pelan di minggu pertama, sebelumnya diam saja. Kalau kita mengganggunya ketika dia sedang menyusu maka dia akan mengerang pelan sebagai tanda protes. *Mendengar dia protes aku biasanya semakin senang untuk iseng mengganggunya dengan mencolek-colek badannya atau menggelitiki kakinya, hehehe*
- Mulai keluar air mata di akhir minggu ke 2. Ya, aku baru tahu lho kalau bayi baru lahir itu tidak bisa mengeluarkan air mata. Sekarang kalau menangis ada air mata yang keluar walaupun masih sedikit.
- Kalau sedang menyusu, kakinya mulai senang ia gerak-gerakan.
- Badannya bertambah berat. Waktu baru lahir bisa digendong dan disusui dengan satu tangan dalam waktu yang lama, sekarang baru sebentar saja sudah pegal.
- Mulai tumbuh bulu mata dan alis yang mana sebelumnya botak. :D

Rasanya tidak sabar melihat perkembangannya lebih lanjut. Pengen cepat-cepat si bayi bisa kasih respon karena sekarang kalau kita 'cilukba' dia belum kasih respon apa-apa.

Baca juga: 

Sunday, April 12, 2015

Menginap di Rumah Sakit Pasca Melahirkan di Ceko, Eropa

     Sebelumnya aku sudah menulis tentang pengalaman melahirkan di Brno, Ceko, Eropa di sini ('Pengalaman melahirkan di Ceko, Eropa').

      Setelah melahirkan aku disuruh makan, mandi, kemudian pindah ke ruang rawat untuk menginap. Disini biasanya untuk lahirkan normal menginap di rumah sakit selama 3 hari, sedangkan untuk caesar  menginap selama 5 hari sampai seminggu.       

      Saat itu aku ditempatkan di ruangan standar yang berisi 3 tempat tidur, tapi belum ada pasien yang lain. Karena merasa sepi aku bertanya apakah suamiku boleh ikut menginap, sayangnya tidak boleh. Kami bertanya kalau pindah ke ruangan VIP yang hanya untuk 1 orang apakah suamiku boleh menginap, tapi sama saja, tetap tidak boleh. Jadi aku tetap memutuskan berada di ruangan standar, paling tidak nanti kalau ada pasien lain, aku jadi tidak kesepian. 

      Suami dan ibuku pulang ke rumah. Aku rasanya letih sekali dan ingin tidur. Tiba-tiba suster datang bertanya apakah bayiku mau diantar sekarang. Aku mengiyakan saja, aku pikir aku ingin melihat bayiku sebentar lalu aku antar lagi ke ruangan bayi. 

      Bayiku diantar ke kamar dengan menggunakan box beroda. Dia sedang tertidur, imut sekali. Aku menatap lama makhluk kecil yang asing ini. Tiba-tiba dia bersin. Hm, sepertinya kedinginan. Baru akan aku gendong, dia menangis. Gawat! Aku tidak pernah dan tidak tahu cara mengurus bayi!!!!!! 

Bayi ditaruh di dalam box plastik bening
Buru-buru aku taruh lagi di box tapi dia tetap menangis. Akhirnya aku memanggil suster. Tapi dengan santainya suster berkata kalau bayi menangis itu sudah biasa, supaya diam aku harus mengecek popoknya atau menyusuinya. Tapi aku bingung karena air susu belum keluar. Suster menyemangati sambil berkata kalau itu wajar, walaupun ASI belum keluar tetap harus disusui. Selain itu aku harus banyak minum air agar air susu cepat keluar. Aku coba menyusui seperti teori yang budeku pernah ajarkan. 

      Malamnya sewaktu tidur aku pindahkan bayiku ke tempat tidur, karena kalau tidur di box sepertinya dia kedinginan karena terus bersin. 

      Tengah malam ada pasien lain yang masuk menempati tempat tidur di ruangan yang sama denganku. Pasien itu sepertinya gelisah dan tidak bisa tidur karena aku terus mendengar tempat tidurnya yang terus berderik-derik. Apalagi ditambah bayiku yang mulai menangis menjelang subuh. Aku khawatir bayiku mengganggu tidur pasien itu. 

      Aku pikir kasihan juga pasien itu pasti dia juga sedang sakit dan ingin istirahat tapi tidak bisa tidur karena terganggu suara tangisan. Jadi aku memutuskan untuk menaruh bayiku ke ruangan bayi, nanti kalau waktu menyusui aku yang akan ke ruangan bayi. 

      Aku kembali menaruh bayiku ke dalam box dan membawanya ke ruangan bayi di lantai yang berbeda. Sampai disana, aku memanggil suster dan menyampaikan alasan menitipkan bayi. Tapi ditolak oleh suster. Suster itu bertanya apa pasien yang lain itu tidak ada bayinya? Aku bilang tidak ada. Suster berkata setiap bayi harus diurus oleh ibunya sendiri dan tidak usah memperdulikan tangisan bayi akan mengganggu pasien yang lain. Akhirnya aku kembali membawa bayiku ke kamar. Ternyata disini tidak ada ruangan bayi tersendiri seperti di Indonesia dan bayanganku. Bayi yang dirawat di ruangan bayi hanya bayi yang memiliki masalah tertentu saja. 

      Pagi harinya pasien itu keluar dari kamar, entah pindah ke kamar lain atau keluar dari rumah sakit. Aku sendiri lagi, tapi bersyukur karena bayiku bisa menangis tanpa aku khawatir menganggu pasien yang lain. 

      Hari ke dua aku diajarkan mengganti diaper karena bayi mulai mengeluarkan mekonium. Setiap siang hari aku merasa senang karena ibuku dan suamiku datang berkunjung, walaupun waktu kunjungannya juga cuma sebentar sekali, hanya mulai dari jam 2 siang sampai jam 6 sore.

      Menjelang malam, ada pasien lain yang menempati tempat tidur di ruanganku. Bahasa Inggrisnya cukup bagus. Untunglah! Dia juga yang banyak membantu menerjemahkan perkataan suster untukku. Malam hari bayi pasien itu diantar ke kamar. 

      Malamnya kami sibuk masing-masing mengurus bayi kami. Ganti diaper dan menyusui. Aku rasanya capai sekali, badan masih belum pulih, bawaan anemia yang kumat, bayi yang nangis - ganti diaper - disusui - terlelap - direbahin - nangis lagi berulang-ulang ditengah malam seperti sedang mengerjai ibunya. 

      Untungnya sekarang aku tidak ada perasaan khawatir tangisan bayiku akan menganggu pasien yang lain, toh bayi mereka juga menangis sama sering dan kencangnya. Baru saat itu aku mengerti kenapa suster bilang tidak usah khawatir dan bertanya pasien yang sebelumnya ada bayinya atau tidak. Tapi kenapa tidak ada bayinya ya?

      Di hari ke 2 di rumah sakit, pasien disuruh untuk mencatat waktu menyusui dan lama waktu menyusui. Catatan itu untuk melihat pola menyusui bayi dan apakah ada masalah dengan menyusui.

      Di hari ke 3, pasien disuruh untuk mencatat waktu menyusui, berat bayi sebelum dan sesudah menyusui, serta selisihnya. Ini untuk mengukur apakah ASI yang masuk ke bayi sudah cukup atau belum. Bayi berumur 2 hari sebaiknya diberi ASI 20 ml dalam rentang waktu 3~4 jam atau 10 ml dalam rentang waktu 2 jam. Dengan perkiraan 1 gram ASI adalah 1 ml. 

ASIku mulai keluar sedikit hari ke 2 malam hari. Waktu itu masih berupa cairan bewarna bening. Pada hari ke 3 baru mulai bewarna putih. 

      Hari ke 3 aku senang sekali karena besok aku bisa pulang ke rumah. Tapi ternyata malam harinya kata dokter yang mengecek bayiku, bayiku beratnya banyak berkurang sehingga keesokan hari masih belum boleh pulang. Dokter bertanya apakah aku ada masalah dengan menyusui. Aku bilang tidak ada tapi ASIku memang baru keluar hari ke 2 malam dan sepertinya aku ada salah menangkap intruksi salah seorang suster (Maklum, masalah bahasa) sehingga membatasi waktu menyusui si bayi. Dokter bilang biarkan bayi menyusui kapan dia mau selama yang dia mau. 

      Hari ke 4 aku semangat menyusui bayiku supaya cepat naik berat badannya walaupun aku masih kaku dalam menyusui dan masih merasa sakit. Ketika malamnya diperiksa, benar saja, berat badan bayiku naik banyak dan keesokan harinya aku sudah boleh pulang. Horeee!

      Selama di rumah sakit aku pesan makanan vegetarian. Asiknya menunya tidak hanya berupa potongan sayur seperti dalam bayanganku, tapi berupa makanan Ceko biasa yang rasanya lumayan enak. 

Makanan Ceko dengan daging vegetarian

Tuesday, April 7, 2015

Pengalaman melahirkan di Ceko, Eropa

*Tulisan berikut sedikit mengandung kata-kata yang agak vulgar, tidak ada maksud lain, hanya untuk memperjelas dan berbagi pengalaman 

      Memasuki minggu kehamilan ke-38 perasaan bercampur aduk, aku mulai tidak sabar bertemu dengan bocil (bos kecil) yang ada di perutku, tapi juga sibuk mengejar target-target selama hamil yang belum tercapai. Hehe, iya dong! Bukan hanya tiap awal tahun saja buat resolusi, aku juga membuat target apa yang harus aku lakukan dan capai selama hamil.

      Sebagai persiapan, aku mulai lebih rajin membaca pengalaman orang-orang tentang melahirkan. Banyak yang menulis kalau memasuki akhir trisemester ke tiga akan mulai terasa kontraksi palsu, yaitu perut terasa kencang untuk beberapa saat. Tapi aku bingung bagaimana rasanya 'kontraksi', karena rasanya aku belum merasa ada perasaan tidak nyaman dengan perutku, semuanya rasanya biasa saja.

      Hari perkiraan lahir (HPL) bayiku adalah tanggal 15 Maret 2015, tapi biasanya kebanyakan orang melahirkan lebih awal atau lebih lambat dari HPL. Untuk merangsang bayi agar cepat lahir, aku banyak berjalan-jalan, yah, sekalian menemani ibuku yang waktu itu datang untuk menemani aku lahiran sehingga beliau bisa melihat-lihat kota Brno dan Olomouc. 

      Tanggal 11 malam setelah buang air kecil, aku melihat bercak bewarna merah muda di tisu, aku masih bingung, apakah ini aku salah lihat atau benar sudah tanda akan melahirkan. Aku masih santai saja, karena perut masih belum terasa mulas-mulas. 

      Tapi setiap ke kamar mandi, lendir bewarna merahnya semakin jelas, tadinya bewarna merah muda, lama-lama menjadi merah lebih jelas. Aku tanya ibuku katanya itu termasuk tanda-tanda akan melahirkan. Aku juga tanya dengan teman Indonesia yang sama-sama tinggal di Brno, dia bilang sebentar lagi akan terasa kontraksi. 

      Aku masih santai saja dan tidur seperti biasa malamnya. Tapi beberapa lama setelah tidur aku mulai merasa perutku mulas, tapi masih bisa ditahan, dan aku juga tidak bangun dari tidur karena masih ngantuk sekali. Rasa mulas itu semakin lama semakin terasa sampai akhirnya jam 12 malam aku terbangun dari tidur. Setiap terasa mulas, aku mencatat waktunya, lalu kembali tidur. Masih 15 menit sekali. Begitu terus dan kami memutuskan untuk ke rumah sakit jam 7 pagi, saat itu kontraksi sudah terasa setiap 10 menit sekali. 

      Sebelum berangkat aku mandi dan bersiap-siap, tidak lupa makan untuk mengisi tenaga dengan mi instan rasa Bulgogi yang dibawakan oleh ibuku dari Indonesia. Di dalam taksi menuju ke rumah sakit, aku makan es krim.

      Kami menuju Fakultni Nemocnice Brno. Sampai di rumah sakit niatnya registrasi dulu, cek bukaan, dan nongkrong di cafe sambil menunggu bukaan lebih banyak. Tapi begitu cek sudah bukaan 2, suster langsung menyuruhku untuk bersiap masuk ke ruangan bersalin. Di Ceko, ruangan bersalin disebut dengan porodni box atau kalau diterjemahkan kasar menjadi kotak bersalin. Isinya ada tempat tidur yang bisa diatur, lemari baju, dan kamar mandi dengan shower. 

      Aku disuruh ganti baju rumah sakit dan menunggu pembukaan lebih banyak sambil duduk-duduk di bola senam. Setelah menunggu beberapa lama, suster mengecek pembukaanku lagi. Sayangnya pembukannya masih sama, pembukaan 2. Suster lalu membawakan air hangat yang tergantung seperti infus, lalu menyemprotkannya ke dalam pantat, tujuannya memancing kotoran dalam perut untuk keluar sehingga ruang di dalam perut lebih luas, pembukaan lebih cepat, dan bayi lebih mudah keluar. Setelah buang air besar, aku disuruh mandi dengan air hangat. Rasanya segar sekali, badan menjadi jauh lebih rileks. 

      Setelah itu aku dicek lagi, pembukaan menjadi bukaan 5. Saat itu kontraksi sudah mulai sering, mungkin sekitar 3 menit sekali. Suster memasang alat di perutku untuk mendeteksi detak jantung bayi.

      Aku disuruh menunggu lagi dan setelah beberapa lama suster kembali mengecek pembukaan, tapi masih tetap sama. Suster bertanya apakah aku ingin ketuban dipecahkan agar proses menjadi lebih cepat, aku mengiyakan. Mereka menggunting lapisan penutup air ketuban, tapi tidak terasa sakit. Setelah itu aku disuruh mandi air hangat lagi. Kalau mandi air hangat rasanya nyaman sekali, rasanya malas sekali kembali ke tempat tidur untuk melahirkan. Aku membayangkan mungkin enak sekali rasanya melahirkan dalam air hangat (water birth) dengan badan yang lebih santai. 

      Suster bertanya apakah aku mulai terasa ada tekanan dari perut seperti perasaan ingin buang air besar, aku bilang tidak. Tapi saat itu kontraksi rasanya sudah jauh lebih sering, kurang dari 1 menit sekali. Suster bertanya lagi apakah aku ingin memakai epidural, aku melirik ibuku, katanya beliau dulu tidak pakai, jadi aku bilang saja aku tidak perlu sambil meyakinkan diri dalam hati aku bisa melalui rasa sakit yang rasanya semakin menjadi-jadi ini. 

      Kontraksi semakin sering, mungkin 20 detik sekali. Rasanya sakit sekali, aku mulai tidak bisa berpikir. Teori yang yang sudah aku baca dan diajarkan oleh budeku pun mulai sulit untuk dilakukan. Harusnya tetap tenang dan diam, aku tidak tahan untuk tidak mengerang-erang. :( Suster terus berusaha menyemangati aku dan mengingatkan untuk menarik napas panjang dan berusaha menggembungkan perut agar bayi tetap mendapat oksigen. 

      Suster mengecek pembukaan lagi, katanya masih belum sempurna dan menyarankan untuk memakai epidural, selain untuk mengurangi rasa sakit, juga agar otot menjadi lebih lemas sehingga pembukaan cepat sempurna. Aku setuju saja, saat itu benar-benar sudah tidak bisa berpikir. 

      Datanglah dokter spesialis anastesi, menyuruhku untuk tidur meringkuk lalu menyuntikkan epidural ke sela tulang punggungku. Setelah beberapa lama rasa sakit bertambah disertai rasa ingin mengejan, tapi aku tahan, aku menunggu aba-aba dari suster. 

      Suster mengecek pembukaanku. Setelah dicek sempurna, aku diijikan untuk mengejan. Suster menyuruhku mengejan ketika kontraksi terasa dengan cara menarik napas dalam-dalam dengan mulut terbuka, lalu menutup mulut rapat-rapat dan mendorong kuat-kuat. Suster juga melakukan episotomi sambil terus mengontrol detak jantung bayi dengan alat yang ditempel ke perutku. Benar seperti yang budeku pernah bilang, episiotomi tidak terasa sakit lagi karena dorongan bayi membuat otot menjadi mati rasa seperti efek bius lokal. Setelah beberapa kali mengejan akhirnya jam 15:40 terdengar suara tangisan buah hati kami. Alhamdulillah.


      Bayi lalu ditaruh di atas perutku sebentar, lalu diukur berat dan panjangnya. Setelah itu lukaku dijahit dan aku disuruh mandi lalu pindah ke ruang rawat tempat menginap. 

      Hah fiuh, akhirnya merasakan juga perjuangan seorang ibu melahirkan. Tapi seperti yang orang-orang bilang, rasa sakitnya segera hilang setelah melihat anak kita lahir dengan selamat. :)


      Pengalaman menginap di rumah sakit Brno, Ceko, juga cukup menarik. Sepertinya berbeda dengan rumah sakit di Indonesia. Selengkapnya aku tulis di sini.